tel aviv
Hanya segelintir orang yang tahu bahwa untuk membandingkan Mossad dan
CIA (Amerika), KGB (Rusia), dan MI6 (Inggris) apalagi Kopassus
(Indonesia), adalah hal yang bodoh. Mossad sama sekali bukan tandingan
mereka.
Dalam lambang mereka tertulis“Ha-Mossad le-Modiin ule-Tafkidim
Meyuhadim” (Ibrani) “yang berarti “Institut Intelijen dan Operasi
Khusus”.
Pagi hari di Sabtu pertama Oktober 2005. Perwira piket di desk Asia
markas besar Mossad di Tel Aviv, ibu kota Israel menerima surat
elektronik kilat dari agen lapangannya di Jakarta.
Isi pesan: “Bali kembali diserang bom bunuh diri”. Informasi super
kilat sampai cepat di markas besar dinas intelejen luar negeri Israel,
Mossad. Wow! Betapa efisiennya kerja mata-mata Mossad yang di Jakarta.
Itu juga membuktikan selama ini sudah terjalin “Hubungan Rahasia”
antara Indonesia dan Israel. Ini bukan cerita baru, setelah publik
dikejutkan dengan tulisan Jerusalem Post mengenai kunjungan delegasi
dagang Israel ke Indonesia beberapa tahun lalu.
Dalam buku “Intel: Inside Indonesia’s Intelligence Service” (2005)
karya Ken Conboy, manajer perusahaan konsultan keamanan Risk Management
Advisory di Jakarta, disebut agen rahasia dinas intelijen zionis ini
kabarnya ikut mendidik agen dinas rahasia Indonesia.
Bulan November 1970, dengan menggunakan paspor Inggris seorang agen
rahasia Mossad bernama Anthony Tingle tiba di Indonesia dan ikut
mendidik agen-agen rahasia Indonesia di Satuan Khusus Intelijen di
Cipayung. Di bulan Februari 1973, Mossad kembali mengirimkan agen mereka
ke Indonesia untuk tujuan yang sama.
Kesimpulannya, sudah lama terjalin kerjasama antara Indonesia-Israel,
meski dilakukan di bawah tangan. Dan hingga kini, hubungan itu terus
berlanjut.
Nah, terciumnya jejak dan efektifnya aktivitas Mossad di Indonesia,
kabarnya, Mossad yang memberi tahu Jakarta tentang keberadaan Azhari
Husin di Batu, Malang. Apakah dinas mata-mata yang paling disegani di
dunia itu juga ikut memberi andil dalam penyerangan teroris di Ciputat
dan Aceh?
Gordon Thomas, dalam bukunya berjudul, Gideon’s Spies menyebut
“”Seorang sayanim (informan) Mossad di Jawa Timur menghubungi perwira
pengendalinya dan menceritakan bahwa dia melihat sejumlah orang
mengontrak rumah di Batu. Dua diantaranya mirip Azhari dan Noordin M
Top. Tapi Noordin tidak lama di rumah itu.”
Thomas tidak menjelaskan di manakah katsa (istilah Mossad untuk
perwira kasus) itu tinggal. Namun ia menulis bahwa hanya dalam beberapa
jam, sang mata-mata sudah sampai di Batu, Malang.
Setelah memastikan bahwa memang Azhari dan kelompoknya ada di rumah
itu, mata-mata Mossad tersebut segera melakukan sambungan telepon ke
Kedutaan Israel di India. Lalu, Kementerian Luar Negeri India diberitahu
yang kemudian mengontak sejawatnya di Jakarta.
Maka, tulis Thomas dalam bukunya yang sudah diterjemahkan ke dalam
Bahasa Indonesia, operasi penyergapan pun dilakukan pada awal November
2005 berkat informasi Mossad.
Dalam penyergapan itu Azhari tewas dan Noordin M Top tidak ditemukan, persis seperti yang dikatakan sang informan bahwa Noordin sudah meninggalkan rumah sehari sebelum penyergapan.
Dalam penyergapan itu Azhari tewas dan Noordin M Top tidak ditemukan, persis seperti yang dikatakan sang informan bahwa Noordin sudah meninggalkan rumah sehari sebelum penyergapan.
Tapi kenapa peranan Mossad itu tidak diketahui publik? Thomas punya
penjelasan, yakni selama ini memang seperti itulah yang diinginkan Tel
Aviv dan negara-negara yang dibantu juga tak berterima kasih kepada
Mossad.
Azhari adalah pakar bom yang langsung direkrut oleh Osama Bin Laden.
Selama pelariannya, dia diketahui pernah berada di India dan merancang
serangan bom di negara itu. Bahkan kabarnya dia ikut merancang serangan
bom di kereta api bawah tanah di London.
Jika benar apa yang ditulis oleh Thomas, maka bisa dikatakan bahwa
Mossad memiliki jaringan yang kuat di Indonesia. Dan, bukan mustahil
mereka memasok informasi tentang keberadaan teroris di Ciputat dan Aceh.
Benarkah demikian? Memang susah dilacak kebenarannya. Namun, Gordon
Thomas menulis bahwa Mossad merekrut banyak sayanim di sejumlah negara,
terutama negara Muslim atau mayoritas penduduknya Muslim.
Sayanim adalah orang Yahudi yang tinggal di suatu negara yang secara
sukarela memberikan informasi kepada Mossad. Sejarah keberadaan
keturunan Yahudi di Indonesia dimulai sejak Belanda menjajah negeri ini

