Tuesday, February 7, 2012

"katsa" dan "sayanim"

                                                                          tel aviv

Hanya segelintir orang yang tahu bahwa untuk membandingkan Mossad dan CIA (Amerika), KGB (Rusia), dan MI6 (Inggris) apalagi Kopassus (Indonesia), adalah hal yang bodoh. Mossad sama sekali bukan tandingan mereka.
Dalam lambang mereka tertulis“Ha-Mossad le-Modiin ule-Tafkidim Meyuhadim” (Ibrani) “yang berarti “Institut Intelijen dan Operasi Khusus”.

Pagi hari di Sabtu pertama Oktober 2005. Perwira piket di desk Asia markas besar Mossad di Tel Aviv, ibu kota Israel menerima surat elektronik kilat dari agen lapangannya di Jakarta.
Isi pesan: “Bali kembali diserang bom bunuh diri”. Informasi super kilat sampai cepat di markas besar dinas intelejen luar  negeri Israel, Mossad. Wow! Betapa efisiennya kerja mata-mata Mossad yang di Jakarta.

Itu juga membuktikan selama ini sudah terjalin “Hubungan Rahasia” antara Indonesia dan Israel. Ini bukan cerita baru, setelah publik dikejutkan dengan tulisan Jerusalem Post mengenai kunjungan delegasi dagang Israel ke Indonesia beberapa tahun lalu.

Dalam buku “Intel: Inside Indonesia’s Intelligence Service” (2005) karya Ken Conboy, manajer perusahaan konsultan keamanan Risk Management Advisory di Jakarta, disebut agen rahasia dinas intelijen zionis ini kabarnya ikut mendidik agen dinas rahasia Indonesia.

Bulan November 1970, dengan menggunakan paspor Inggris seorang agen rahasia Mossad bernama Anthony Tingle tiba di Indonesia dan ikut mendidik agen-agen rahasia  Indonesia di Satuan Khusus Intelijen di Cipayung. Di bulan Februari 1973, Mossad kembali mengirimkan agen mereka ke Indonesia untuk tujuan yang sama.

Kesimpulannya, sudah lama terjalin kerjasama antara Indonesia-Israel, meski dilakukan di bawah tangan. Dan hingga kini, hubungan itu terus berlanjut.

Nah, terciumnya jejak dan efektifnya aktivitas Mossad di Indonesia, kabarnya, Mossad yang memberi tahu Jakarta tentang keberadaan Azhari Husin di Batu, Malang. Apakah dinas mata-mata yang paling disegani di dunia itu juga ikut memberi andil dalam penyerangan teroris di Ciputat dan Aceh?
Gordon Thomas, dalam bukunya berjudul, Gideon’s Spies menyebut “”Seorang sayanim (informan) Mossad di Jawa Timur menghubungi perwira pengendalinya dan menceritakan bahwa dia melihat sejumlah orang mengontrak rumah di Batu. Dua diantaranya mirip Azhari dan Noordin M Top. Tapi Noordin tidak lama di rumah itu.”

Thomas tidak menjelaskan di manakah katsa (istilah Mossad untuk perwira kasus) itu tinggal. Namun ia menulis bahwa hanya dalam beberapa jam, sang mata-mata sudah sampai di Batu, Malang.

Setelah memastikan bahwa memang Azhari dan kelompoknya ada di rumah itu, mata-mata Mossad tersebut segera melakukan sambungan telepon ke Kedutaan Israel di India. Lalu, Kementerian Luar Negeri India diberitahu yang kemudian mengontak sejawatnya di Jakarta.

Maka, tulis Thomas dalam bukunya yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, operasi penyergapan pun dilakukan pada awal November 2005 berkat informasi Mossad.
Dalam penyergapan itu Azhari tewas dan Noordin M Top tidak ditemukan, persis seperti yang dikatakan sang informan bahwa Noordin sudah meninggalkan rumah sehari sebelum penyergapan.

Tapi kenapa peranan Mossad itu tidak diketahui publik? Thomas punya penjelasan, yakni selama ini memang seperti itulah yang diinginkan Tel Aviv dan negara-negara yang dibantu juga tak berterima kasih kepada Mossad.

Azhari adalah pakar bom yang langsung direkrut oleh Osama Bin Laden. Selama pelariannya, dia diketahui pernah berada di India dan merancang serangan bom di negara itu. Bahkan kabarnya dia ikut merancang serangan bom di kereta api bawah tanah di London.

Jika benar apa yang ditulis oleh Thomas, maka bisa dikatakan bahwa Mossad memiliki jaringan yang kuat di Indonesia. Dan, bukan mustahil mereka memasok informasi tentang keberadaan teroris di Ciputat dan Aceh.

Benarkah demikian? Memang susah dilacak kebenarannya. Namun, Gordon Thomas menulis bahwa Mossad merekrut banyak sayanim di sejumlah negara, terutama negara Muslim atau mayoritas penduduknya Muslim.

Sayanim adalah orang Yahudi yang tinggal di suatu negara yang secara sukarela memberikan informasi kepada Mossad. Sejarah keberadaan keturunan Yahudi di Indonesia dimulai sejak Belanda menjajah negeri ini

Thursday, December 15, 2011

Mossad


Israeli secret service the Mossad linked to Iran military blast

Iran's suspected nuclear enrichment facility under construction at Qom. Reports claim the Mossad was behind a huge blast at a facility which killed a missile development pionee


 
 A series of news reports linking Israel's intelligence agency the Mossad to a blast at a military facility in Iran, in which 17 people were killed and a further 15 wounded, has gained widespread coverage in the Israeli media on Monday.
While Iranian officials insist the explosion at the Bid Ganeh base was accidental, caused by the movement of ammunition, claims from anonymous western and Israeli officials that Saturday's blast was a covert Israeli operation have gained momentum.
Leading Israeli daily Yediot Ahronot picked up a post by US blogger Richard Silverstein claiming the Mossad had teamed up with Iranian militant group Mujahideen e-Khalq (MEK) to execute the alleged attack. MEK denies involvement in the attack.
Leftwing broadsheet Ha'aretz also led with reports that a western intelligence source quoted in Time magazine had claimed the Mossad carried out the attack in an attempt to stall Iran's development of a nuclear weapon. The official is said to have warned: "There are more bullets in the magazine."
The blast at the base, which is reported to have been a storage facility for long-range missiles, was so powerful that it was said to have been felt 30 miles away in the capital, Tehran.
Among those killed was Major General Hassan Moghaddam, the Revolutionary Guard Commander charged with "ensuring self-sufficiency" in armaments, and described by Iranian media as a pioneer in Iranian missile development.
Israel's defence minister, Ehud Barak, responded to news of Moghaddam's death by saying: "May there be more like it."
Prime minister Binyamin Netanyahu's office refused to comment on growing speculation of the Mossad's involvement. Ilan Mizrahi, former head of the national security council and former deputy head of the Mossad, also would not be drawn into substantiating the claims: "I have no idea whether this blast was accidental or whether it was sabotage. But I will say God bless those who were behind it, because the free world should be doing its best to prevent Iran from achieving nuclear military capability."
A recent International Atomic Energy Agency (IAEA) report, based on the intelligence of 10 governments, presented images, letters and diagrams that suggested Iran was secretly working on nuclear weaponry.
Both the US and France have offered close co-operation with Israel, threatening increased sanctions unless Iran responds with transparency to the nuclear watchdog report. Earlier this month, the Knesset debated the bombing of Iran to prevent further nuclear development, with Netanyahu and Barak said to supporting military strikes.
"There is nothing in this latest IAEA report that Israel hasn't known for a long time. Their arsenal of long-range missiles is also too often overlooked. I believe a military strike is an option that should be put clearly on the table," Mizrahi said. "Something should be done to stop Iran. I think in the end [Israel] will stand alone."
Iran's envoy to the IAEA says any nuclear development is for peaceful means and that the material evidence against has been fabricated by the US.
Israel has been linked to several previous incidents in Iran similar to Saturday's explosion, including an explosion at a Shahab facility in south-western Iran in 2010 and a bomb attack earlier that year in Tehran, in which Iranian physicist Masoud Ali Mohammadi was killed.